Dini hari, terbangun dari mimpi yang seakan menyiratkan pesan.
Diluar masih gelap. Bunyi rintik, kilatan dan gemuruh langit yang terlihat jelas dari balik jendela.
Aku tidak berbohong.
Ketika menuliskan ini, duduk didepan komputer dengan air mata tak mau berhenti mengalir.
Ya, aku menangis saat ini.
Entahlah karena apa, takut engkau benar-benar pergi, ataukah
rindu yang semakin menikam hati.
Selama ini, kita baik-baik saja. Lebih dari sekedar
baik-baik saja.
Namun, apa gerangan tiba-tiba hatiku melemah seperti ini?
Katakan aku egois. Berbohong tentang perasaan kepada diri
sendiri.
Akankah kau bersikap seperti itu hanya kepadaku? Aku pun sebenarnya masih ragu,
Sudah lama aku tak mengisahkan dirimu dalam untaian kata. Sudah
lama pula hubungan pertemanan ini terjalin. Bolehkah aku menganggap pertemanan
ini istimewa?
Ah, tidak ya?
Boleh?
Bagaimana? Aku semakin bingung jika kau tak berkata apa-apa
Tolong katakan dengan jelas, biar aku mengerti.
Terlepas dari semua tuduhan yang aku berikan kepadamu, itu
hanya untuk menutupi egoku saja. Karena sedari awal, aku yang menciptakan sebuah
batas. Aku yang membuatmu bingung harus berbuat apa. Hingga pada akhirnya,
memendam, adalah jalan yang tepat untuk dilakukan.
Aku yang tidak tau perasaanmu padaku. Dan kamu yang ‘mungkin’
menganggapku tidak ingin membawanya lebih jauh.
Maafkan diriku yang egois. Membiarkanmu bimbang dan terluka,
demi melindungi hatiku agar tak merasakan sakit dan retak. Bukan apa-apa, aku
hanya takut salah mengartikan semuanya, dan berujung kecewa.
Sampai saat ini, biarkan waktu dan semesta yang menjawab
semuanya.
Kenapa aku masih saja menangis? Padahal ini adalah jalan yang
aku pilih. Berani merelakan.
Baiklah, boleh aku berkata jujur disini?
Sebenarnya, aku tak ingin kau benar-benar pergi. Aku tak
ingin kau dimiliki orang lain. Aku tak ingin merelakanmu untuk orang lain.
Aku takut kehilangan perhatian yang selalu kau beri. Aku
takut kehangatanmu akan mendingin. Aku takut kau lelah menghadapi diriku, yang
masih menutup hati.
Aku takut kau memilih yang lain…
Aku takut, karena aku, sudah terbiasa dengan kehadiranmu
dalam hidupku.
Tuhan… titipkan salam rinduku padanya
Maaf, aku tidak bisa memutuskan apa-apa.
Maaf, aku belum bisa menemukan jawaban.
Dan Maaf, aku tak bisa memahami hatiku berkata Ya atau
Tidak.
Dia disana, yang bingung harus melakukan apa. Dan diriku
yang masih menunggu kepastian, yang sebenarnya sudah nyata.
Biarkan seperti ini saja dahulu.
Abu-abu, mengambang.
Jaga hatinya, jaga raganya, ketika suatu saat nanti dia
terluka oleh diriku.
Aku tak ingin dia pergi. Aku juga tak ingin dia dimiliki
orang lain. Namun, aku juga tak berhak untuk semua itu.
Egois memang.
Mungkin saja, kalau sedari awal aku tak memasang benteng yang
begitu tinggi dan kokoh. Mungkin, kini dia mampu mengisi ruang kosong dalam
hati yang dingin. Dia mampu menembus benteng pertahanan.
Oh, atau mungkin saja dia sudah mampu menembusnya? Mungkin.
Sangat mungkin.
Namun lagi dan lagi. Masih ada ego dan gengsi dalam diriku
yang begitu tinggi.
Wilayah ini, dia tak mampu untuk menjangkaunya. Tak mampu menembusnya.
Biarkan Tuhan.. biarkan hubungan –yang entah bagaimana aku
menyebutnya- ini mengalir begitu saja. Sampai ‘mungkin’ suatu saat nanti, di
waktu yang telah engkau rencanakan, aku mampu untuk menjawab semua pertanyaan
yang ada dikepala. Baik diriku, ataupun dirinya.
Sungguh, memendam rindu tanpa bisa berbuat apa-apa, adalah
hal yang paling menyesakkan untuk dilakukan.
Komentar
Posting Komentar