Langsung ke konten utama

Salam rindu dini hari. Mimpi, rintik, kilatan dan gemuruh langit.

 

Dini hari, terbangun dari mimpi yang seakan menyiratkan pesan. 

Diluar masih gelap. Bunyi rintik, kilatan dan gemuruh langit yang terlihat jelas dari balik jendela.

Aku tidak berbohong.

Ketika menuliskan ini, duduk didepan komputer dengan air mata tak mau berhenti mengalir.

Ya, aku menangis saat ini.

Entahlah karena apa, takut engkau benar-benar pergi, ataukah rindu yang semakin menikam hati.

Selama ini, kita baik-baik saja. Lebih dari sekedar baik-baik saja.

Namun, apa gerangan tiba-tiba hatiku melemah seperti ini?

Katakan aku egois. Berbohong tentang perasaan kepada diri sendiri. 

Akankah kau bersikap seperti itu hanya kepadaku? Aku pun sebenarnya masih ragu,

Sudah lama aku tak mengisahkan dirimu dalam untaian kata. Sudah lama pula hubungan pertemanan ini terjalin. Bolehkah aku menganggap pertemanan ini istimewa?

Ah, tidak ya?

Boleh?

Bagaimana? Aku semakin bingung jika kau tak berkata apa-apa

Tolong katakan dengan jelas, biar aku mengerti.

Terlepas dari semua tuduhan yang aku berikan kepadamu, itu hanya untuk menutupi egoku saja. Karena sedari awal, aku yang menciptakan sebuah batas. Aku yang membuatmu bingung harus berbuat apa. Hingga pada akhirnya, memendam, adalah jalan yang tepat untuk dilakukan.

Aku yang tidak tau perasaanmu padaku. Dan kamu yang ‘mungkin’ menganggapku tidak ingin membawanya lebih jauh.

Maafkan diriku yang egois. Membiarkanmu bimbang dan terluka, demi melindungi hatiku agar tak merasakan sakit dan retak. Bukan apa-apa, aku hanya takut salah mengartikan semuanya, dan berujung kecewa.

Sampai saat ini, biarkan waktu dan semesta yang menjawab semuanya.

Kenapa aku masih saja menangis? Padahal ini adalah jalan yang aku pilih. Berani merelakan.

Baiklah, boleh aku berkata jujur disini?

Sebenarnya, aku tak ingin kau benar-benar pergi. Aku tak ingin kau dimiliki orang lain. Aku tak ingin merelakanmu untuk orang lain.

Aku takut kehilangan perhatian yang selalu kau beri. Aku takut kehangatanmu akan mendingin. Aku takut kau lelah menghadapi diriku, yang masih menutup hati.

Aku takut kau memilih yang lain…

Aku takut, karena aku, sudah terbiasa dengan kehadiranmu dalam hidupku.

Tuhan… titipkan salam rinduku padanya

Maaf, aku tidak bisa memutuskan apa-apa.

Maaf, aku belum bisa menemukan jawaban.

Dan Maaf, aku tak bisa memahami hatiku berkata Ya atau Tidak.

Dia disana, yang bingung harus melakukan apa. Dan diriku yang masih menunggu kepastian, yang sebenarnya sudah nyata.

Biarkan seperti ini saja dahulu.

Abu-abu, mengambang.

Jaga hatinya, jaga raganya, ketika suatu saat nanti dia terluka oleh diriku.

Aku tak ingin dia pergi. Aku juga tak ingin dia dimiliki orang lain. Namun, aku juga tak berhak untuk semua itu.

Egois memang.

Mungkin saja, kalau sedari awal aku tak memasang benteng yang begitu tinggi dan kokoh. Mungkin, kini dia mampu mengisi ruang kosong dalam hati yang dingin. Dia mampu menembus benteng pertahanan.

Oh, atau mungkin saja dia sudah mampu menembusnya? Mungkin. Sangat mungkin.

Namun lagi dan lagi. Masih ada ego dan gengsi dalam diriku yang begitu tinggi.

Wilayah ini, dia tak mampu untuk menjangkaunya. Tak mampu menembusnya.

Biarkan Tuhan.. biarkan hubungan –yang entah bagaimana aku menyebutnya- ini mengalir begitu saja. Sampai ‘mungkin’ suatu saat nanti, di waktu yang telah engkau rencanakan, aku mampu untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dikepala. Baik diriku, ataupun dirinya. 

Sungguh, memendam rindu tanpa bisa berbuat apa-apa, adalah hal yang paling menyesakkan untuk dilakukan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Menghilang

Padahal kau tidak sedang melawak atau mengirimkan pesan yang mengudang tawa. Tetapi   entah kenapa, setiap kali nama mu muncul di notifikasi, hatiku menghangat. Bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Ternyata kau masih ada. Ternyata kau masih menganggapku ada. Padahal ini hanya obrolan ringan, sekedar membahas suatu hal yang terkadang sama-sama kita suka. Atau tidak kita suka. Namun itu mampu membuat mood ku membaik. Apa gerangan kau bisa membuat suasana hatiku berubah seketika. Hanya karena sebuah pesan singkat. Bahkan hanya komentar receh kala aku membuat cerita. Pernah ku mencoba untuk menghilang beberapa hari saja. Beberapa hari tanpa berkabar dan bertukar pesan singkat denganmu. Yah, dan aku berhasil. Aku berhasil mengabaikan satu pesanmu yang belum sempat aku buka setelah 1 x 24 jam. Tapi jujur, itu berat. Aku bahkan menyibukkan diri untuk sekedar tidak memandang benda pipih persegi panjang itu. Mencoba hidup tanpamu. Namun, hari ku terasa hampa. Aktivitasku sehar...

Sebatas Teman

Sebenarnya aku tak yakin, apakah ini benar-benar rasa sayang, suka, atau- cinta?  Aku fikir dengan kau menghilang tiba-tiba adalah hal biasa. Sangat biasa dalam kamus hidupku.  Tapi entah kenapa, rasa kehilangan itu sangat terasa, dan begitu menyakitkan.  Sepi yang selalu aku dapatkan sebelum kau datang adalah sebuah rutinitas, tidak begitu menyesakkan. Bahkan aku selalu menikmatinya.  Namun, kini berbeda. Kau selalu ada disaat-saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar, berkeluh kesah di masa sulitku untuk beradaptasi dengan semua perubahan. Kau ada disana untuk memberiku dorongan dengan pesan-pesan singkat yang sialnya bisa membuat hatiku menjadi lebih lega.  Sebenarnya aku takut dengan semua ini, takut jika aku terlalu jatuh dan terbiasa dengan kehadiranmu.  Aku takut rasa ini salah. Aku takut kau tak nyaman dengan semua ini. Karena aku hanya ingin berteman, cukup seperti ini.  Tolong, jangan libatkan perasaan. Karena aku tidak mau k...

Kamu dan Kenangan

Pukul dini hari aku terbangun Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, memberi warna disana. Walau hanya sebentar.  Entahlah… sebelumnya aku tak memikirkannya. Namun, ini bukan kali pertama ia muncul dalam mimpiku. Menurut mitos yang beredar, jika kita bermimpi bertemu seseorang dimasa lalu, dia sedang merindukan kita.  Really? I don't believe that Rindu kah kau pada diriku? itu terlalu tidak mungkin. Bukankah aku tidak berarti apa-apa dimatamu? Hanya sebatas teman. Kau mulai nyaman. Kau berbagi cerita padaku,meminta pendapat. Kita saling menukar pesan singkat. Tak jarang kau melemparkan gombalan receh yang hanya aku balas dengkusan. Kau tertawa. Selalu seperti itu.  Tapi, aku juga perempuan. Yang kau lihat kuat dari luar, namun rapuh didalam. Aku takut hati ini akan runtuh perlahan. Bersamamu. Pernah kau ungkapkan perasaanmu padaku, namun tak ingin menjadikan kita sepasang kekasih. Karena kau tau, kau paham, agama k...