Pukul dini hari aku terbangun
Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, memberi warna disana. Walau hanya sebentar.
Entahlah… sebelumnya aku tak memikirkannya. Namun, ini bukan kali pertama ia muncul dalam mimpiku. Menurut mitos yang beredar, jika kita bermimpi bertemu seseorang dimasa lalu, dia sedang merindukan kita.
Really? I don't believe that
Rindu kah kau pada diriku? itu terlalu tidak mungkin. Bukankah aku tidak berarti apa-apa dimatamu? Hanya sebatas teman. Kau mulai nyaman. Kau berbagi cerita padaku,meminta pendapat. Kita saling menukar pesan singkat. Tak jarang kau melemparkan gombalan receh yang hanya aku balas dengkusan. Kau tertawa. Selalu seperti itu.
Tapi, aku juga perempuan. Yang kau lihat kuat dari luar, namun rapuh didalam. Aku takut hati ini akan runtuh perlahan. Bersamamu. Pernah kau ungkapkan perasaanmu padaku, namun tak ingin menjadikan kita sepasang kekasih. Karena kau tau, kau paham, agama kita melarang.
Aku hanya menganggap itu guyonan belaka. Gombalan yang selalu terselip dipercakapan kita, seperti sebelumnya. Aku terawa sumbang. Sejujurnya, aku sedikit merasakan keseriusan disana. Hatiku mulai gundah. Walau aku tak bisa melihat raut wajahmu kala itu, aku yakin, kau juga terperangkap rasa ini.
Kau mengatakan dengan serius. Aku pun diam membisu. Jemariku terasa kaku untuk sekedar mengetik untaian kata yang akan ku kirimkan padamu. Berkali-kali aku menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi. Aku menggeram tertahan.
Kenapa aku seperti ini?
Akhirnya aku pun membalas pesanmu, dengan kalimat yang tak kalah panjangnya. Kamu hanya mengungkapkan, aku hanya bisa menerima, tanpa bisa membalas. Aku tau aku munafik kala itu. Menampik perasaan-perasaan aneh yang kian datang saat bersamamu. Namun, aku mencari alasan realistis. Alasan yang sangat umum digunakan. ‘Aku ingin fokus belajar’
Yah, saat itu kita mendekati ujuan nasional. Alasan yang sangat realistis bukan?
Hari berikutnya, kau jarang sekali masuk kelas bimbel. Hanya saat seperti itu kita bisa bertemu. Entahlah.. apa karena aku, kau seperti ini? kau juga semakin jarang mengirimkan pesan padaku. Walau hanya ada lelucon dan gombalan receh yang sayangnya sangat aku rindukan.
Sebelumnya, kau selalu datang paling awal. Tentunya setelah diriku. Kau selalu mengambil tempat yang tak jauh dariku, entah itu disamping atau dibelakangku. Mengajakku berbincang ringan, tak lupa dengan gombalan recehmu itu. Dasar!
Kau selalu tampak marah dan jengkel ketika teman lelaki lain berusaha mendekati ataupun menggodaku. Aku berhasil mencuri pandang ke arahmu kala itu. Dimataku, kau sungguh manis jika merasa jengkel. Hanya bisa menunduk memainkan pensil yang kau pegang dan mencoret-coret kertas disana. Seolah, kau mencurahkan kekesalanmu pada kertas malang itu. Manis sekali.
Keseruan itu tak bertahan lama. Semenjak kau mengungkapkan semuanya. Entahlah, ada rasa lain yang hinggap disini. Rasa yang mebuatku tak nyaman dan merasa bersalah. Mungkin kau menyadari diriku yang mulai menjaga jarak, sedikit menjauh darimu. Sebelum hati ini benar-benar merasa kehilangan, aku harus bisa melatihnya mulai sekarang.
Akhirnya, masa-masa itu kita jalani dengan diam. Saling mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional yang sebentar lagi dilaksanakan.
Sejujurnya, aku mulai merasa sepi. Tak ada lagi yang megirimkanku pesan singkat disela-sela jam belajar. Tak ada lagi lelucon yang membuatku tertawa tertahan. Ataupun gombalan receh yang selalu ku jawab dengkusan, tapi, ada semburat merah yang memenuhi pipiku.
Tiga hari bertempur. Tiga hari yang terasa begitu panjang. Tiba-tiba, malam itu kau menghubungiku lagi. Setelah sekian lama. Kau bertanya aku akan melanjutkan kemana, dan entahlah… aku hanya bisa mingirimkan beberapa nama sekolah yang aku dambakan. Namun kau terlihat tak bersemangat membahas hal ini, aku bertanya. Kenapa? Kau bilang, kau akan dikirimkan ke pondok pesantren. Jauh dari kota yang kita tempati. Wajar saja kau sedikit mengeluh. Aku mengetahui kau sangat suka dengan dunia photography, lalu disana, kau tak lagi bisa mendalami dunia itu. Jangankan kau membawa kamera kesayanganmu itu, handphone yang hanya berukuran kecil itu saja tidak boleh. Lagi, kau kembali mengeluh padaku.
Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menasehati dirimu. Pilihan orang tua adalah yang terbaik, doa mereka yang paling ampuh menembus langit. Berkali-kali aku yakinkan dirimu, inilah yang terbaik. Yang paling baik untuk dirimu. Kau mulai berlapang dada. Kemudian berpamitan padaku, satu pekan lagi. Satu pekan lagi kau akan meninggalkan kota ini, beserta kenangannya.
Kau minta satu hal, jika nilai ku lebih unggul darimu, aku yang akan mentraktir kau makan nasi pecel dekat bimbel kita. Yang biasa kita beli jika tak ada waktu untuk sekedar pulang ke rumah, selesai kegiatan sekolah langsung ada kelas bimbel. Begitupun sebaliknya, jika kau yang lebih unggul dariku, kau yang akan mentraktir. Yeah! dan aku pun menyetujui.
Setelah beberapa hari menunggu pengumuman itu, akhirnya disinilah kita. Warung nasi pecel. Na’as nya nilaiku lebih unggul darinya, yang artinya aku lah yang harus mentraktir dirinya. Tak apa lah, sebagai tanda terimakasihku. Dia juga sering mengajariku jika ada materi yang belum aku pahami. Dia berkata untuk dia saja yang membayarnya, aku keukeuh tak ingin. Ini sudah seperti janji yang diucapkan, berkali-kali pula aku bilang 'tak apa'. Suasana ini membuatku sedikit gugup, biasanya dia yang paling sering bercerita, berceloteh, jangan lupakan gombalan recehnya. Itu sudah ciri khas yang seperti mendarah daging, entah hanya saat bersamaku atau yang lain juga. Namun, sepertinya dia juga sedikit kikuk. Terbukti dengan dia yang sesekali berdehem dan menggaruk tengkuknya.
Setelah keheningan menguasai, akhirnya ia membuka suara. Ia berterima kasih untuk semuanya. Meminta maaf untuk semuanya. Berpamitan, besok ia akan berangkat. Tak ada yang bisa aku lakukan, lidah ini terasa kelu hanya untuk sekedar berucap. Hanya anggukan kecil dan senyuman yang bisa aku berikan. Dia juga tersenyum, sangat tulus. Diakhir pertemuan, dia mengucap kalimat yang membuatku semakin membeku ditempat.
Semoga takdir Tuhan mempertemukan kita kembali.
Komentar
Posting Komentar