Langsung ke konten utama

Relation

 



Bicara tentang relation,

Entahlah…

Sebenarnya kita ini apa?

Jika ditanya, aku akan menjawab kita hanyalah teman. Begitupun dirimu.

Namun apakah benar-benar seperti ini yang dinamakan pertemanan antara laki-laki dan perempuan? Saling berkabar, berkeluh kesah, memberikan saran dan dorongan.

Mungkin memang benar begitu adanya.

Berkali-kali aku menanyakan pada diri sendiri, mengapa bibir ini selalu tersenyum melihat namamu muncul di notifikasi. Mengapa selalu cemas hanya karena menunggu pesan singkat darimu. Merindukan perhatian-perhatian kecil yang secara tidak langsung kau berikan padaku.

Apakah hanya aku?

Apakah hanya aku yang kau perlakukan seperti ini?

Apakah hanya aku tempatmu bisa berkeluh kesah?

Apakah hanya aku yang tanpa kita sadari, tempat saling berbagi dan bercerita?

Mungkinkah kau memperlakukan mereka sama sepertiku?

Atau bahkan bisa lebih dari itu?

Ah… aku terlalu banyak bertanya kali ini. Dan semua pertanyaan yang bersarang dikepala tak akan bisa aku ketahui jawabannya.

Hanya dirimu. Dirimu yang bisa menjawab semua pertanyaan ini, 

dan itu tidak mungkin

Aku sudah terlanjur nyaman berteman denganmu.

Tapi, aku takut.

Takut hanya untuk bertanya jika menyangkut ‘perasaan diantara' kita.

Bukan. Aku bukan takut kau tak memiliki perasaan yang sama. Hanya saja, aku takut kehilangan rasa nyaman yang sudah kau ciptakan untuk diriku.

Aku tidak takut kau menjauh dan pergi.

Tapi takut, jika aku yang akan menjauh, pergi dan menghilang.

Menyisakan dirimu yang dilanda rasa sakit dan kecewa. Dan kau, menjadi orang yang berbeda.

Bukan orang yang selama ini aku kenal, melainkan orang yang berbeda kepribadian dalam satu raga. Lebih buruk. Sama seperti ‘mereka’

Yah.. aku bukanlah perempuan yang baik.

Aku adalah perempuan yang seenaknya meninggalkan sesorang yang sudah menaruh hatinya padaku. Meninggalkan seseorang yang sudah susah payah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan. Dengan alasan, aku kehilangan rasa nyaman yang tercipta.

Mungkin mereka merasa nyaman jika bersama ku, dan aku pun begitu. Namun, ini berlaku jika mereka tidak mengungkapkan perasaannya.

Jujur, aku sendiri juga tidak tahu. Mengapa?

Mengapa hatiku seakan ingin berlari menjauh ketika ada seseorang yang ingin membangun sebuah hubungan.

Perhatian kecil yang dulunya membuatku tersenyum dan tertawa, seakan menjadi hambar dan membuatku tidak nyaman.

Dan akhirnya. Aku. Perlahan menjauh.

Aku bukan perempuan yang baik untuk kalian. Percayalah, akan ada seseorang ‘lagi’ yang datang. Dan lebih tepat untuk membahas dan membangun sebuah hubungan.

Yang pasti bukanlah diriku.

Tunggu dulu.

Kembali lagi kepada ‘kita’

Mengapa aku berfikir kau berbeda? Mungkin saja kau benar-benar menganggapku sebatas teman, dan aku bersyukur untuk itu.

Kau tidak seperti mereka yang setiap waktu mengirimkan pesan padaku. Kau tau saat-saat yang tepat untuk sekedar berbalas pesan.

Mungkin kau tau, aku tak suka menjawab pertanyan retoris dan membahas hal-hal yang tidak berfaedah. Kau selalu saja mempunyai topik pembicaraan yang sialnya sangat menyenangkan untuk kita perbincangkan.

Kau mengerti diriku.

Kau mengerti diriku yang punya batasan pertemanan lawan jenis.

Sampai detik ini, kita belum pernah ber-telfon, mengirim pesan suara, atau parahnya videocall. Kau mampu mengimbangi diriku yang mempunyai beberapa kepribadian yang tak semua orang tau. 

Kau menjadi dewasa ketika aku menjadi seperti anak kecil. Dan sebaliknya, aku akan mengeluarkan sisi ke-ibuan, ketika kau sedang berkeluh kesah ataupun terkadang, juga merengek seperti anak kecil.

Mungkin orang-orang berfikir suatu saat kita akan menjadi ‘couple goals’

Namun sayangnya, itu tidak mungkin.

Teralu tidak mungkin untuk menjadi sebuah kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Menghilang

Padahal kau tidak sedang melawak atau mengirimkan pesan yang mengudang tawa. Tetapi   entah kenapa, setiap kali nama mu muncul di notifikasi, hatiku menghangat. Bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Ternyata kau masih ada. Ternyata kau masih menganggapku ada. Padahal ini hanya obrolan ringan, sekedar membahas suatu hal yang terkadang sama-sama kita suka. Atau tidak kita suka. Namun itu mampu membuat mood ku membaik. Apa gerangan kau bisa membuat suasana hatiku berubah seketika. Hanya karena sebuah pesan singkat. Bahkan hanya komentar receh kala aku membuat cerita. Pernah ku mencoba untuk menghilang beberapa hari saja. Beberapa hari tanpa berkabar dan bertukar pesan singkat denganmu. Yah, dan aku berhasil. Aku berhasil mengabaikan satu pesanmu yang belum sempat aku buka setelah 1 x 24 jam. Tapi jujur, itu berat. Aku bahkan menyibukkan diri untuk sekedar tidak memandang benda pipih persegi panjang itu. Mencoba hidup tanpamu. Namun, hari ku terasa hampa. Aktivitasku sehar...

Sebatas Teman

Sebenarnya aku tak yakin, apakah ini benar-benar rasa sayang, suka, atau- cinta?  Aku fikir dengan kau menghilang tiba-tiba adalah hal biasa. Sangat biasa dalam kamus hidupku.  Tapi entah kenapa, rasa kehilangan itu sangat terasa, dan begitu menyakitkan.  Sepi yang selalu aku dapatkan sebelum kau datang adalah sebuah rutinitas, tidak begitu menyesakkan. Bahkan aku selalu menikmatinya.  Namun, kini berbeda. Kau selalu ada disaat-saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar, berkeluh kesah di masa sulitku untuk beradaptasi dengan semua perubahan. Kau ada disana untuk memberiku dorongan dengan pesan-pesan singkat yang sialnya bisa membuat hatiku menjadi lebih lega.  Sebenarnya aku takut dengan semua ini, takut jika aku terlalu jatuh dan terbiasa dengan kehadiranmu.  Aku takut rasa ini salah. Aku takut kau tak nyaman dengan semua ini. Karena aku hanya ingin berteman, cukup seperti ini.  Tolong, jangan libatkan perasaan. Karena aku tidak mau k...

Kamu dan Kenangan

Pukul dini hari aku terbangun Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, memberi warna disana. Walau hanya sebentar.  Entahlah… sebelumnya aku tak memikirkannya. Namun, ini bukan kali pertama ia muncul dalam mimpiku. Menurut mitos yang beredar, jika kita bermimpi bertemu seseorang dimasa lalu, dia sedang merindukan kita.  Really? I don't believe that Rindu kah kau pada diriku? itu terlalu tidak mungkin. Bukankah aku tidak berarti apa-apa dimatamu? Hanya sebatas teman. Kau mulai nyaman. Kau berbagi cerita padaku,meminta pendapat. Kita saling menukar pesan singkat. Tak jarang kau melemparkan gombalan receh yang hanya aku balas dengkusan. Kau tertawa. Selalu seperti itu.  Tapi, aku juga perempuan. Yang kau lihat kuat dari luar, namun rapuh didalam. Aku takut hati ini akan runtuh perlahan. Bersamamu. Pernah kau ungkapkan perasaanmu padaku, namun tak ingin menjadikan kita sepasang kekasih. Karena kau tau, kau paham, agama k...