Bicara tentang relation,
Entahlah…
Sebenarnya kita ini apa?
Jika ditanya, aku akan menjawab kita
hanyalah teman. Begitupun dirimu.
Namun apakah benar-benar seperti ini yang
dinamakan pertemanan antara laki-laki dan perempuan? Saling berkabar, berkeluh
kesah, memberikan saran dan dorongan.
Mungkin memang benar begitu adanya.
Berkali-kali aku menanyakan pada diri
sendiri, mengapa bibir ini selalu tersenyum melihat namamu muncul di
notifikasi. Mengapa selalu cemas hanya karena menunggu pesan singkat darimu.
Merindukan perhatian-perhatian kecil yang secara tidak langsung kau berikan
padaku.
Apakah hanya aku?
Apakah hanya aku yang kau perlakukan
seperti ini?
Apakah hanya aku tempatmu bisa berkeluh
kesah?
Apakah hanya aku yang tanpa kita sadari, tempat
saling berbagi dan bercerita?
Mungkinkah kau memperlakukan mereka sama
sepertiku?
Atau bahkan bisa lebih dari itu?
Ah… aku terlalu banyak bertanya kali ini.
Dan semua pertanyaan yang bersarang dikepala tak akan bisa aku ketahui
jawabannya.
Hanya dirimu. Dirimu yang bisa menjawab semua pertanyaan ini,
dan itu tidak mungkin
Aku sudah terlanjur nyaman berteman denganmu.
Tapi, aku takut.
Takut hanya untuk bertanya jika menyangkut
‘perasaan diantara' kita.
Bukan. Aku bukan takut kau tak memiliki perasaan
yang sama. Hanya saja, aku takut kehilangan rasa nyaman yang sudah kau ciptakan
untuk diriku.
Aku tidak takut kau menjauh dan pergi.
Tapi takut, jika aku yang akan menjauh,
pergi dan menghilang.
Menyisakan dirimu yang dilanda rasa sakit
dan kecewa. Dan kau, menjadi orang yang berbeda.
Bukan orang yang selama ini aku kenal,
melainkan orang yang berbeda kepribadian dalam satu raga. Lebih buruk. Sama
seperti ‘mereka’
Yah.. aku bukanlah perempuan yang baik.
Aku adalah perempuan yang seenaknya
meninggalkan sesorang yang sudah menaruh hatinya padaku. Meninggalkan seseorang
yang sudah susah payah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan.
Dengan alasan, aku kehilangan rasa nyaman yang tercipta.
Mungkin mereka merasa nyaman jika bersama
ku, dan aku pun begitu. Namun, ini berlaku jika mereka tidak mengungkapkan
perasaannya.
Jujur, aku sendiri juga tidak tahu.
Mengapa?
Mengapa hatiku seakan ingin berlari menjauh
ketika ada seseorang yang ingin membangun sebuah hubungan.
Perhatian kecil yang dulunya membuatku
tersenyum dan tertawa, seakan menjadi hambar dan membuatku tidak nyaman.
Dan akhirnya. Aku. Perlahan menjauh.
Aku bukan perempuan yang baik untuk kalian.
Percayalah, akan ada seseorang ‘lagi’ yang datang. Dan lebih tepat untuk
membahas dan membangun sebuah hubungan.
Yang pasti bukanlah diriku.
Tunggu dulu.
Kembali lagi kepada ‘kita’
Mengapa aku berfikir kau berbeda? Mungkin
saja kau benar-benar menganggapku sebatas teman, dan aku bersyukur untuk itu.
Kau tidak seperti mereka yang setiap waktu
mengirimkan pesan padaku. Kau tau saat-saat yang tepat untuk sekedar berbalas
pesan.
Mungkin kau tau, aku tak suka menjawab
pertanyan retoris dan membahas hal-hal yang tidak berfaedah. Kau selalu saja
mempunyai topik pembicaraan yang sialnya sangat menyenangkan untuk kita perbincangkan.
Kau mengerti diriku.
Kau mengerti diriku yang punya batasan
pertemanan lawan jenis.
Sampai detik ini, kita belum pernah ber-telfon, mengirim pesan suara, atau parahnya videocall. Kau mampu mengimbangi diriku yang mempunyai beberapa kepribadian yang tak semua orang tau.
Kau menjadi
dewasa ketika aku menjadi seperti anak kecil. Dan sebaliknya, aku akan
mengeluarkan sisi ke-ibuan, ketika kau sedang berkeluh kesah ataupun terkadang, juga merengek seperti anak kecil.
Mungkin orang-orang berfikir suatu saat kita akan menjadi
‘couple goals’
Namun sayangnya, itu tidak mungkin.
Teralu tidak mungkin untuk menjadi sebuah
kenyataan.

Komentar
Posting Komentar