Langsung ke konten utama

Just You

Lucu yah. Padahal sudah bertahun-tahun. Tapi bayanganmu masih saja mengikuti.

Cukup! Biarkan aku hidup dengan tenang, cerita itu sudah lama terlewat. Mengaku aku yang salah, tapi, bukan sepenuhnya juga. Aku tak tau kau memendam rasa itu sendirian, aku tak tau tingkahmu dulu adalah untuk membuatmu lebih dekat denganku. Aku tak tau.

Kau tak pernah bilang hal ini padaku, bahkan tak seorang pun yang tau. Semuanya terbongkar kala itu, dan itu sudah terlambat. 

Pengakuan yang harusnya tak pernah kau ungkap. Yang membuatku merasa bersalah, selalu memikirkan dirimu, bahkan benih-benih itu sudah merambah, melalang buana, entah sejak kapan.

Bisakah kita atur ulang waktu? 

Jujur saja, aku rindu dengan kamu yang dulu. Segala tingkah konyolmu, yang berhasil membuat wajahku merah padam. Apakah itu yang hanya bisa kau lakukan untuk berinteraksi denganku? Bahkan, saat kita duduk satu bangku, perdebatan kecil itu selalu menghiasi. 

Terkadang kita menertawakan hal-hal konyol yang tak begitu lucu menurutku, tapi entah mengapa, melihat kau tertawa begitu lepas, membuatku ikut tergelak. Bukan leluconmu, tapi tawamu. 

Siapa yang menyangka, dua orang yang jika dipertemukan akan berubah mejadi Tom and Jerry- yang salah satu dari mereka menyimpan rasa? 

Bodohnya aku 

Kala itu, hanya ada rasa sebal saat kau menunjukkan batang hidungmu. Dimanapun itu. Ingin ku menenggelamkanmu didalam rawa-rawa. Dan aku bisa tertawa puas. Hidup dengan bebas.

Bertahun-tahun kita menjalani kehidupan seperti itu. Menjahili, mengolok, menyindir, dan perdebatan kecil. Namun, lama kelamaan aku menikmati itu semua. Aku menyukainya. Aku menyukai sosokmu yang apa adanya. 

Memang, sesekali kita tertawa bersama, saling bercerita. Namun tak bertahan lama, teman-teman kita berhasil membuat suasana semakin runyam dengan istilah ‘makcomblang’ 

Lagi dan lagi, aku tak terlalu menghiraukan hal itu. 

Kata mereka kau begitu dingin. Namun, saat bersamaku kau terlihat hangat dan apa adanya. Ah, aku menampik semua argumen itu.

Tapi aku merindukan sosokmu

Entah kenapa, tiba-tiba kau seperti hilang begitu saja. Tak ada hujan, tak ada angin. Kau berhenti dengan ‘rutinitas’

Baiklah.. memang itu yang ku inginkan sejak dulu, membuatku sedikit lega, setidaknya tekanan darahku tidak akan terus menanjak.
 
Tapi aku juga tidak munafik. Aku merasa kehilangan. Aku merindukanmu. Merindukan kehadiran sosokmu. Perbincangan ringan, saling bertukar pesan singkat. Tertawa. Tergelak. Bercerita. Saling memberi kabar, walau dengan dana mengejek. Minumbulkan perdebatan kecil ‘lagi’

Tetapi, itu yang membuatku merindu.

Selang beberapa minggu, ternyata kau mengencani teman ku. Teman dekatku. Apakah itu salah satu cara membalaskan dendammu? Membalas perasaanmu yang sudah lama tak aku hiraukan?
 
Hei, dimana salah ku saat itu? Aku bukan orang yang begitu peka dengan keadaan. Aku bukan seperti perempuan pada umumnya. Aku tak tau jika kau tak berucap, jika jari itu tak menari indah di benda pipih persegi panjang dalam genggaman. Yang langsung kau tujukan untuk diriku. 

Hingga saat itu, kau mengungkapkan semuanya. Disaat kau menjalin sebuah hubungan terlarang dengan sahabatku sendiri. Lalu tiba-tiba kau pergi meninggalkannya. Juga meninggalkan ku. 

Boleh aku memanggilmu lelaki brengsek? 

Biadab

Apapun umpatan itu bersarang untuk dirimu. Yang naasnya, sangat aku rindukan. Dirimu yang berhasil mencuri sebagian dari hatiku. 

Aku memaki dalam hati. Aku menjadi perempuan paling bodoh di dunia ini.

Tak bisa merasa
Tak bisa membalas perasaan seseorang yang terlihat begitu tulus dan apa adanya
Tak bisa merelakan
Tak bisa menampik rasa suka dan rindu yang hingga kini masih berbekas

Detik itu juga, aku mengganti nomor dan semua akun sosial media. Aku tak lagi bisa menghubungimu. Tak lagi bisa seperti dulu. Kita sudah berpisah sejak pengumuman kelulusan itu. 

Kau dan aku, memang tak seharusnya menjadi kita.

Biarlah itu menjadi cerita kelam yang terkubur bersama waktu. Biarkan aku merasakan apa yang teman-temanku rasakan saat remaja. Warna-warni merah jambu. Tetapi, rasa itu masih ada hingga kini. Membuatku memberikan sinyal berbahaya dikala sesorang berani mengungkapkan perasaanya.

Membuatku merasa tidak nyaman, berlari menjauh. Berubah. 

Yah, persis seperti yang kau lakukan. 

Berubah dan menghilang. 

Ragamu kini masih ada, tatapan itu sempat bertubrukan. Selama itu pula kita tak saling bertegur sapa. Ramadhan ini, sudah menjadi Ramadhan yang ke sekian untuk kita saling bertemu. Bersitatap.

Jujur. Rasa itu masih ada. Masih membekas dalam dada, getaran itupun masih ada. Membuatku diam membisu, tak bisa berkutik. Bodohnya diriku yang masih menyimpan rasa dan ruang itu dihati, bahkan sampai saat ini.

Ya! Hanya dirimu! 

Tak sadarkah, perlakuanmu beberapa tahun yang lalu masih membekas, menghantui kehidupanku hingga kini? 

Lantas, bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah melanjutkan hidup dengan normal? Setelah meninggalkan kubangan luka pada diriku? 

Apakah kau masih menemukan berbagai persamaan dalam diri kita? Atau kau juga mengubur semua bersama dengan menghilangnya dirimu? Kala itu?  

Ah iya. Aku berdoa semoga kau tak bisa menemukan tulisanku disini. Tak akan pernah. Sudah lama aku ingin menulis seperti ini, tetapi bayanganmu selalu saja menghantui. 

Bagaimana bisa? Aku saja tak menyimpan nomor ponselmu. 
Sosial media? Aku tak mau membuka luka lama dengan mengikutimu, mengetahui segala aktivitasmu 

Pada intinya, semoga kau tak pernah menemukanku disini. 

Tak akan pernah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Menghilang

Padahal kau tidak sedang melawak atau mengirimkan pesan yang mengudang tawa. Tetapi   entah kenapa, setiap kali nama mu muncul di notifikasi, hatiku menghangat. Bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Ternyata kau masih ada. Ternyata kau masih menganggapku ada. Padahal ini hanya obrolan ringan, sekedar membahas suatu hal yang terkadang sama-sama kita suka. Atau tidak kita suka. Namun itu mampu membuat mood ku membaik. Apa gerangan kau bisa membuat suasana hatiku berubah seketika. Hanya karena sebuah pesan singkat. Bahkan hanya komentar receh kala aku membuat cerita. Pernah ku mencoba untuk menghilang beberapa hari saja. Beberapa hari tanpa berkabar dan bertukar pesan singkat denganmu. Yah, dan aku berhasil. Aku berhasil mengabaikan satu pesanmu yang belum sempat aku buka setelah 1 x 24 jam. Tapi jujur, itu berat. Aku bahkan menyibukkan diri untuk sekedar tidak memandang benda pipih persegi panjang itu. Mencoba hidup tanpamu. Namun, hari ku terasa hampa. Aktivitasku sehar...

Sebatas Teman

Sebenarnya aku tak yakin, apakah ini benar-benar rasa sayang, suka, atau- cinta?  Aku fikir dengan kau menghilang tiba-tiba adalah hal biasa. Sangat biasa dalam kamus hidupku.  Tapi entah kenapa, rasa kehilangan itu sangat terasa, dan begitu menyakitkan.  Sepi yang selalu aku dapatkan sebelum kau datang adalah sebuah rutinitas, tidak begitu menyesakkan. Bahkan aku selalu menikmatinya.  Namun, kini berbeda. Kau selalu ada disaat-saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar, berkeluh kesah di masa sulitku untuk beradaptasi dengan semua perubahan. Kau ada disana untuk memberiku dorongan dengan pesan-pesan singkat yang sialnya bisa membuat hatiku menjadi lebih lega.  Sebenarnya aku takut dengan semua ini, takut jika aku terlalu jatuh dan terbiasa dengan kehadiranmu.  Aku takut rasa ini salah. Aku takut kau tak nyaman dengan semua ini. Karena aku hanya ingin berteman, cukup seperti ini.  Tolong, jangan libatkan perasaan. Karena aku tidak mau k...

Kamu dan Kenangan

Pukul dini hari aku terbangun Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, memberi warna disana. Walau hanya sebentar.  Entahlah… sebelumnya aku tak memikirkannya. Namun, ini bukan kali pertama ia muncul dalam mimpiku. Menurut mitos yang beredar, jika kita bermimpi bertemu seseorang dimasa lalu, dia sedang merindukan kita.  Really? I don't believe that Rindu kah kau pada diriku? itu terlalu tidak mungkin. Bukankah aku tidak berarti apa-apa dimatamu? Hanya sebatas teman. Kau mulai nyaman. Kau berbagi cerita padaku,meminta pendapat. Kita saling menukar pesan singkat. Tak jarang kau melemparkan gombalan receh yang hanya aku balas dengkusan. Kau tertawa. Selalu seperti itu.  Tapi, aku juga perempuan. Yang kau lihat kuat dari luar, namun rapuh didalam. Aku takut hati ini akan runtuh perlahan. Bersamamu. Pernah kau ungkapkan perasaanmu padaku, namun tak ingin menjadikan kita sepasang kekasih. Karena kau tau, kau paham, agama k...